Senin, 02 Mei 2016

PENGANGGURAN: MASALAH NYATA KETENAGAKERJAAN



Oleh : Yusuf Amri

Penduduk merupakan objek kajian bidang ilmu demografi yang kondisinya selalu dinamis atau berubah dari waktu ke waktu. Penduduk (population) yang selalu berubah menjadikannya sebagai objek kajian yang sangat menarik. Perubahan kondisi penduduk disuatu wilayah baik secara kualitas maupun kuantitas akan terus terjadi sebab penduduk bergerak dan berpindah baik secara vertikal maupun horizontal. Perpindahan penduduk secara vertikal dan horisontal ini masuk dalam teori migrasi (migration). Perpindahan penduduk vertikal berhubungan dengan perubahan status sosial seorang individu, sedangkan perpindahan penduduk horisontal berhubungan dengan perpindahan penduduk secara keruangan (spacial). Penduduk dalam kacamata ilmu demografi dikaji dalam tiga aspek utama yaitu kelahiran (fertility), kematian (mortality), migrasi (migration).
            Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar didunia. Hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah total penduduk di Indonesia tercatat sebanyak 237 juta jiwa (BPS,2013). Jumlah penduduk yang sangat banyak tentu membawa keuntungan tersendiri bagi Indonesia yaitu memiliki sumberdaya manusia yang melimpah secara kuantitas. Akan tetapi kondisi ini belum diikuti dengan kualitas sumberdaya manusia yang baik. Salah satu parameter untuk melihat keberhasilan pembangunan suatu negara dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2013 sebesar 73,81 dan angka ini merupakan yang paling tinggi sejak tahun 1996 (Gambar 1). Berdasarkan data World Bank tahun 2014 IPM Indonesia sebesar 0.684 dan berada diperingkat 110 dari 188 negara diseluruh dunia. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih dibawah Malaysia (peringkat 62), Singapura (peringkat 11), Thailand (peringkat 93), dan China (peringkat 90).
 
Gambar 1. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Tahun 1996-2013
(Sumber: Badan Pusat Statistik)

            Jumlah penduduk yang besar tanpa diikuti dengan kualitas rata-rata yang baik maka dapat menimbulkan banyak permasalahan. Salah satu permasalahan kependudukan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah tingginya angka Pengangguran Terbuka. Pengangguran Terbuka adalah  angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. Angkatan Kerja diartikan sebagai jumlah penduduk usia kerja (15 tahun keatas) yang sedang bekerja atau sedang mencari pekerjaan (Mantra, 2003). Jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mengalami penurunan sejak 2005 sampai 2013. Tahun 2005 jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia sebesar 10.854.254 jiwa dan tahun 2013 turun menjadi 7.170.523 jiwa. Penurunan jumlah pengangguran terbuka periode 2005-2013 mencapai 3.683.731 jiwa. Data publikasi pengangguran terbuka dari Badan Pusat Statistik sebenarnya tersaji dalam dua waktu untuk setiap tahun, yaitu bulan februari dan bulan agustus. Alasan diambil data pada bulan februari karena pada bulan februari data tersaji lebih lengkap dibandingkan bulan agustus. Jadi data yang tersaji diatas bukan data diakhir tahun. Selain itu data yang tersaji merupakan jumlah total nasional dan belum terinci menurut wilayah provinsi. Oleh karena itu, data ini tidak dapat menggambarkan wilayah mana yang memiliki pengangguran tinggi dan rendah. Berikut adalah tren jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik:

Gambar 2. Tren Perubahan Jumlah Pengangguran Terbuka (Februari)
Di Indonesia Tahun 2005-2013
(Sumber: Badan Pusat Statistik, *data pengangguran terbuka bulan februari)


Gambar 3. Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Terakhir Yang
Ditamatkan di Indonesia Tahun 2005-2013
(Sumber: Badan Pusat Statistik)

Berdasarkan gambar 3 dapat dilihat bahwa jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia tahun 2005 didominasi oleh penduduk yang tamat SMP sebesar 2.680.810 jiwa dan tamat SMA sebesar 2.680.752 jiwa. Sementara itu jumlah Pangangguran Terbuka dari kalangan penduduk yang tidak pernah sekolah sebesar 342.656 jiwa, tidak tamat SD sebesar 670.055 jiwa, tamat SD sebesar 2.540.977 jiwa, tamat SMA umum sebesar 2.680.752 jiwa, tamat SMK kejuruan sebesar 1.230.750 jiwa, tamat Diploma sebesar 322.836 jiwa, dan dari kalangan penduduk yang tamat universitas / perguruan tinggi mencapai 385.418 jiwa. Jumlah ini mengalami penurunan pada tahun 2013. Pengangguran Terbuka yang tidak sekolah sebesar 109.865 jiwa, tidak tamat SD sebesar 513.534 jiwa, tamat SD sebesar 1.421.653 jiwa, tamat SMP sebesar  1.822.395 jiwa, tamat SMA umum sebesar 1.841.545 jiwa, tamat SMK kejuruan sebesar 847.052 jiwa, tamat Diploma sebesar 192.762 jiwa, dan tamat universitas sebesar 421.717 jiwa.
Menurut uraian data diatas diketahui bahwa ternyata banyak penduduk yang tamat universitas menjadi pengangguran. Jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan pengangguran dari kalangan penduduk yang tidak sekolah. Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kondisi ketenagakerjaan sehingga banyak tamatan universitas dan diploma yang mengganggur. Meski demikian tren pengangguran terbuka di Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar. Padahal jumlah penduduk usia kerja dan jumlah angkatan kerja terus bertambah setiap tahun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Ida Bagoes Mantra dalam Demografi Umum (2003) menjelaskan bahwa pengangguran menurut sebabnya dibedakan menjadi tiga:
a.    Pengangguran Friksional
Pengangguran Friksional muncul karena ada kesulitan secara temporer yang mempertemukan antara pencari kerja dengan lowongan kerja.
b.    Pengangguran Struktural
Pengangguran Struktural muncul karena struktur ekonomi berubah.
c.    Pengangguran Musiman
Pengangguran Musiman terjadi sebab perubahan musim.


Gambar 4. Pencari Kerja
(Sumber: Nasional.republika.ac.id)

            Jumlah pengangguran yang cukup tinggi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dianggap paling dominan adalah ketidakseimbangan antara jumlah angkatan kerja dengan kesempatan kerja yang tersedia. Kesempatan kerja di Indonesia dianggap belum cukup untuk menyerap angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja di Indonesia tahun 2005 sebanyak 105,80 juta jiwa dan tahun 2013 sebanyak 121,19 juta jiwa. Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 94,95 juta jiwa pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 114,02 juta jiwa pada tahun 2013 (Gambar 5). Ada satu parameter lain yang digunakan untuk melihat gambaran apakah penduduk usia kerja di suatu wilayah lebih banyak masuk kategori angkatan kerja atau justru bukan angkatan kerja. Parameter tersebut adalah Tingkat partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Dengan kata lain Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menggambarkan persentase angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja (Mantra, 2003).  Persentase Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Indonesia pada rentang waktu 2005-2013 tidak berbeda jauh. TPAK tahun 2005 sebesar 68,02% dan tahun 2013 sebesar 69,21% (Badan Pusat Statistik). Angka tersebut dapat diartikan bahwa secara umum jumlah penduduk usia kerja di Indonesia lebih banyak masuk kategori angkatan kerja. Jika dibedakan berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) maka di Indonesia ada kecederungan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Hal ini disebabkan karena faktor budaya. Laki-laki wajib bekerja untuk mencari penghasilan, sedangkan perempuan tidak wajib bekerja. Perempuan yang berstatus ibu rumah tangga masuk dalam kategori bukan angkatan kerja walau usia diatas 15 tahun (usia kerja).


Gambar 5. Jumlah Angkatan Kerja dan Bekerja di Indonesia Tahun 2005-2013
(Sumber: Badan Pusat Statistik)

            Faktor lain yang menyebabkan terjadinya pengangguran adalah keterbatasan pendidikan dan keterampilan para pencari kerja, kurangnya informasi tentang lowongan kerja, ada ketidaksesuaian antara pendidikan dan keterampilan pencari kerja dengan lowongan kerja yang dibutuhkan, pertumbuhan kesempatan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, lapangan kerja tidak merata disetiap wilayah, kebijakan pemerintah tentang ketenagakerjaan kurang efektif dan efisien, pemerintah kurang optimal dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan pencari kerja (Sukidjo, 2005). 
Pengangguran dalam jumlah besar menyebabkan masalah lain yang lebih kompleks. Contohnya penurunan pendapatan rumah tangga, peningkatan angka beban ketergantungan, memicu peningkatan jumlah kemiskinan, memicu peningkatan jumlah kriminalitas terutama di perkotaan, menghambat pertumbuhan ekonomi, menghambat pembangunan secara nasional, dan lain-lain. Mengingat begitu banyak permasalahan lain yang dapat timbul akibat tingginya jumlah pengangguran maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk menekan angka penganngguran. Tentu bukan hal mudah untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Mantra (2003) menjelaskan lebih jauh tentang kondisi pengangguran di Indonesia. Jumlah Pengangguran Terbuka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Setengah Pengangguran. Mengapa demikian? Karena konsep Pengangguran Terbuka lebih mengarah kepada penduduk yang mencari kerja. Sementara banyak penduduk yang sudah bekerja namun kurang dari 35 jam per minggu (jam kerja normal). Inilah yang disebut sebagai Setengah Pengangguran.

Gambar 6. Ilustrasi pengangguran
(Sumber: republika.ac.id)

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menekan jumlah pengangguran. Pertama, pemerintah perlu membuka dan menyediakan lapangan pekerjaan baru seluas-luasnya. Lapangan kerja baru dapat diciptakan melalui bidang kewirausahaan. Penduduk yang menganggur dapat didorong untuk berwirausaha. Wirausaha bukan hanya untuk membuka lapangan kerja baru namun juga mendidik kemandirian masyarakat dalam bekerja. Wirausaha sekaligus untuk mendorong masyarakat ikut aktif membuka lapangan kerja baru. Selain melalui wirausaha, pemerintah dapat membuka lapangan kerja baru dengan memaksimalkan potensi industri lokal baik besar maupun kecil. Sektor industri masih menjadi salah satu sektor yang memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Semakin banyak jumlah penduduk maka semakin kompleks permasalahan kependudukan yang akan timbul. Pembangunan nasional sudah semestinya berbasis kependudukan. Negara Indonesia memiliki semua syarat untuk maju. Potensi sumberdaya alam yang sangat melimpah, iklim yang relatif kondusif, dan jumlah penduduk yang sangat banyak sebagai human capital. Pertanyaannya adalah bagaimana kemudian segala potensi ini akan dikelola demi kemajuan bangsa. Pada akhirnya jangan sampai pengangguran menjadi pengahambat pembangunan nasional.



Referensi:
Badan Pusat Statistik Indonesia. www.bps.go.id. Diakses pada hari Selasa, 12 April 2016 pukul 13.20 WIB.

Mantra, Ida Bagoes. 2003. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukidjo. 2005. Peran Kewirausahaan Dalam Mengatasi Pengangguran di Indonesia. Jurnal Ekonomia, Vol. 1. No.1. Agustus 2005. Halaman: 17-28.

World Bank : Human Development Index 





Yusuf Amri,
Yogyakarta, 30 April 2016

Artikel ini ditulis dalam rangka
Program Motivator Muda Kependudukan 
BKKBN Pusat 2016